Masa Kanak- Kanak

 

 Masa Kanak- Kanak

Masa Kanak-kanak disebut juga dengan masa prasekolah (3-6 tahun). Ciri perkembangan yang sangat terlihat adalah anak mulai terdengar cerewet, banyak bertanya, hal ini disebabkan rasa ingin tahu tersebut mendapatkan tanggapan yang baik dari orangtanya, anak akan berkembang dengan kepercayaan diri dan memiliki tingkat pemahaman yang baik terhadap dunia sekitar serta kreatif.

Pada tahap ini disebut juga sebagai masa “prakarsa vs rasa bersalah. Anak ingin melakukan apa yang dilakukan oleh orang dewasa, memiliki inisiatif dan ide-ide untuk melakukan hal-hal yang baru dan sudah memiliki suatu tujuan dan lebih terorganisir.

Teori lain mengatakan bahwa usia 3 sampai 5 tahun sudah bisa memahami hubungan antara emosi dan sebab yang mempengaruhi  emosi. Awal belajar memahami emosi yang turun naik. Pemahaman terhadap emosi orang lain terbatas hanya kepada emosi yang ditunjukan pada mimik muka. Perasaan takut yang terbentuk berhubungan dengan imaginasi atau khayalan, dan perkembangan daya  kreativitas dan pemikiran abstrak. Contohnya takut hantu, takut jatuh, lebih mandiri, kurang  physical contact dengan ibu bapak, lebih banyak bicara untuk mencurahkan perasaan.

Anak TK atau prasekolah cenderung mengekspresikan emosinya dengan bebas dan terbuka. Periode prasekolah sudah bisa mengenali permasalahan dan mengkreasi solusi-solusi melalui keterampilan-keterampilan penyelesaian masalah yang baru mereka kuasai. Perkembangan berpikir simbolik memungkinkan imajinasi memperluas kekuatan berpikir mereka. Dan penggunaan bahasa untuk mengeksplorasi dan mengajukan pertanyaan membantu anak-anak belajar tentang aspek-aspek kehidupan yang bersifat simbolik dan abstrak. Periode prasekolah ini merupakan periode yang kondusif untuk pertumbuhan intelegensi dan periode yang menyenangkan karena orangtua memiliki kesempatan yang luas untuk memberikan pengaruhnya terhadap proses berpikir anak.

Orang tua dan guru-guru hendaknya menyadari bahwa perubahan ekspresi yang tampak ini tidak berarti bahwa emosi tidak lagi berperan dalam kehidupan ana muda. Ia tetap membutuhkan perangsang-perangsang yang memadai untuk pengembangan pengalaman-pengalaman emosional. Karena anak tumbuh dalam keadaan fisik dan pemahaman, responnya berbeda terhadap apa yang sebelumnya dianggap sebagai ancaman atau rintangan cita-citanya. Ia pada akhirnya perlu mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan tingkah lakunya dengan apa yang sedang terjadi padanya.

Bentuk-bentuk emosi yang terjadi pada anak diantaranya :

1. Takut

Takut adalah perasaan yang mendorong individu untuk menjahui sesuatu dan sedapat mungkin menghindari kontak dengan hal itu. Bentuk ekstrim dari takut adalah phobia, yaitu perasaaan takut terhadap hal-hal tertentu yang begitu kuat tanpa alasan yang nyata, misalya takut terhadap ruang yang sempit dan tertutup (claustrophobia), takut terhadap ketinggian dan sebagainya.

2. Kuatir

Kuatir atau was-was adalah rasa takut yang tidak mempuyai obyek yang jelas dan tanpa obyeknya lama sekali, kekuatiranya menyebabkan rasa tidak senang, gelisah, tegang, tidak senang dan rasa tidak aman, kekuatiran seseorang untuk melanggar norma masyarakat adalah salah satu bentuk kekuatiran umum yang terdapat pada tiap orang, dan merupakan sesuatu yang positif karena akan menyebabkan kehati-hatian dan akan berusaha untuk meyesuaikan dengan norma masyarakat.

3. Cemburu

Merupakan bentuk khusus dari kekuatiran yang didasari oleh kurang adanya keyakina terhadap diri sendiri dan ketakutan akan kehilangan kasih sayang dan seseorang. Orang yang sedang cemburu selalu mempuyai sikap benci terhadap sainganya.

4. Gembira

Merupakan ekspresi dari kelegaan, yaitu perasaan terbebas dari ketegangan. Biasanya kegembiran disebabkan oleh hal-hal yang bersifat tiba-tiba (surprise) dan kegembiranya biasanya bersifat sosial, yaitu melibatkan orang-orang lain yang sedang gembira.

  1. Marah

Sumber utama kemarahan adalah hal-hal yang mengganggu aktivitas untuk sampai tujuanya, dengan demikian ketegangan yang terjadi dalam aktivitas itu tidak mereda, bahkan bertambah. Untuk menyalurkan itu ketegangan individu yang bersangkutan menjadi marah.

Afek dan emosi yang melekat pada eksistensi manusia adalah normal dan merupakan dorongan baginya (seperti kebanggaan, kegembiraan, ketakutan dalam batas-batas tertentu), tapi bila afek dan emosi itu sudah begitu keras sehingga fungsi individu terganggu, maka dikatakan telah terjadi gangguan afek dan emosi.12 Gangguan tersebut merupakan Gangguan psikologis timbul karena adanya pengalaman yang tidak menyenangkan (traumatis) yang dapat menghambat perkembangan mental. Sedangkan Seseorang dikatakan emosinya matang jika memiliki displin diri, determinasi diri, dan kemandirian. Orang yang memiliki determinasi diri akan dapat membuat keputusan dalam memecahkan masalah.

Emosi anak akan sangat membantu orang tua dan pendidik dalam memberi stimulasi atau rangsangan emosi yang tepat bagi anak. Keterbatasan pemahaman emosi anak sering kali menimbulkan ketidaktepatan orang dewasa dalam merespon emosi anak. Kondisi ini dapat mengakibatkan munculnya permasalahan baru dalam aspek emosi.

Ketegangan Emosi yang dimiliki anak dapat menghambat atau menggangu aktivitas motorik dan mental anak. Seseorang anak yang mengambil stres atau ketakutan menghadap uuatu situasi dapat menghambat anak untuk meakukan aktivitas misalnya menolak bermain finger painting (melukis dengaan jari tangan) karena takut akan mengotori bajunya dan dimarahi orang tuanya. Hal demikian menyebabkan anak kehilangan keberanian untuk mencoba dan kesempatan pengembangan dirinya terlambat. Sehingga ketidakmampuan anak dalam mengenali emosi dan mengelola emosinya menunjukan kecenderungan anak berkercerdasan emosi rendah sehingga menghambat anak dalam mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Kondisi ini memungkinkan penggunaan kriteria penyesuaia diri sebagai patokan dalam menentukan permasalahan anak. Kriteria ini menekankan pada kriteria umum untuk melihat apakah individu mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Biasanya merujuk pada perilaku yang di anggap meresahkan bahkan mengganggu perkembangan diri sendiri atau lingkungan sekitar seperti perilaku agresif, berbohong atau kecemasan terus menerus.

Ada hubungan yang jelas antara konsep penyesuaian diri dan kesehatan mental tetapi hubunan tersebut tidak mudah ditetapkan. Kesehatan mental merupakan kondisi yang sangat dibutuhkan untuk penyesuaian diri yang baik dan demikian juga sebaliknya. Apabila seseorang  bermental sehat, maka sedikit kemugkinan ia akan mengalami ketidakmampun menyesuaikan diri yang berat. Kesehtan mental adalah kunci untuk peyesuaian diri yang sehat.

Integrasi yang dibutuhkan bagi kesehatan mental dapat ditunjang oleh perasaan-perasaan positif dan demikian juga sebaliknya perasaan-perasaan negatif dapat mengganggu atau bahkan merusak kestabilan emosi. Perasaan-perasaan tidak aman yang dalam, tidak adekuat, bersalah, rendah diri, bermusuhan, bensi, cemburu, dan iri hati adalah tanda-tada gangguan emosi dan dapat menyebabkan  mental tidak sehat.

Ketidaksesuaian dalam perkembangan anak merupakan bahasan mengenai berbagai bentuk masalah yang terjadi dalam proses perkembangan anak, baik yang terkait dengan hambatan perkembangan maupun penyimpangan perkembangan. Hambatan perkembangan anak memfokuskan pada bahasan mengenai berbagai bentuk “berkelainan”. Adapun anak dengan penyimpangan perkembangan adalah anak-anak yang secara biologis relatif normal, namun memiliki berbagai risiko yang dapat mengakibatkan penyimpangan dalam perkembangannya. Namun demikian, tidak semua anak yang dalam proses perkembanganya mengalami masalah termasuk dalam kategori hambatan dan penyimpangan. Terdapat bebrapa kondisi permasalaahan yang dialai anak masih sebagai proses perkembangan yang normal. Contohnya perilaku yang sering berubah dari hari-kehari pada anak usia TK merupakan bagian dari perkembangan yang normal untuk menuju proses perkembangan pada tahap selanjutnya.

Anak-anak akan tumbuh dan berkembang optimal jika keadaan jiwanya sehat. Pola asuh yang salah pada anak seringkali menyebabkan anak tumbuh kembang dalam tekanan. Orangtua yang sering mencela, memarahi, menyalah-nyalahkan akan membuat anak tumbuh secara esteem yang rendah. Anak akan minder tidak percaya diri, merasa tidak mampu yang bisa menjadi faktor presdiposisinya terjadi depresi. Jika  anak dibesarkan dalam kondisi demikian, maka akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak sehat mental dan tidak akan terwujud generasi yang berkualitas.

Oleh karenanya, Masa ini perlu mendapatkan perhatian khusus dimana merupakan masa yang sangat peka terhadap lingkungan dan berlangsung sangat pendek serta tidak dapat diulang lagi, masa balita disebut sebagai “ masa keemasan” (golden period), jendela kesempatan “ (window of opportunity)” dan “masa kritis” (critical period).

Pemahaman mengenai karakteristik sama seperti perkembangan dalam aspek lain, emosi anak juga berkembang bertahap namun berkesinambungan. Juga sama dengan aspek lain, tiap anak memiliki perkembangan emosi yang spesifik dan unik untuk dirinya, tidak dapat disamaratakan untuk semua anak. Dengan sendririnya emosi anak juga harus dibedakan dengan emosi kita sebagai orang tua. Jangan mengukur emosi dan perilaku anak dengan kacamata atau ukuran orang dewasa.

 

DAFTAR PUSTAKA :

  • Hidayat, DR, 2009. Ilmu Perilaku Manusia. Jakarta : Trans Info Media.
  • Siswanto, H. 2010. Pendidikan Kesehatan Anak Usia Dini. Yogyakarta : Pustaka Rihana.
  • Shelov, SP. 2005. Panduan Lengkap Perawatan Bayi dan Balita. Jakarta: ARCAN.
  • Semiun, Y. 2006. Kesehatan Mental. Yogyakarta : kanisius.
  • Sastroasmoro, S. 2007. Membina Tumbuh-Kembang Bayi dan Balita. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.
  • Anonim. Ciri-ciri Anak Prasekolah. [Serial Online]. 15 Februari 2012 [di kutip pada pada tanggal 4 Mei 2012 jam 08:30 WIB] tersedia dari: URL: http://duniapsikologi.com/ciri-ciri-anak-prasekolah-atatu-TK]
  • Nursalam, 2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak (untuk perawat dan bidam). Jakarta: Salemba Medika
  • Agustiansyah, Fator-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi.
  • [Serial Online]. 26 Mei 2011 [di kutip pada tanggal 31 Mei  2012 jam12:30 WIB] tersedia dari:URL : http://blog.elearning.unesa.ac.id/nur
  • ardisti/mengenal-ecerdasan-emosional-pada-anak-usia-dini.
  • Lukaningsih, LLZ dan Bandiyah,S. 2011. Psikologi  Kesehatan. Yogyakarta : Nuha Medika.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s